Pettt! Listrik tiba-tiba padam, malam itu. Dengan sigap, abi segera menyalakan
lampu minyak. Si kecil Asma’ (3th) mengamati lampu minyak itu dengan penuh
rasa ingin tahu. Tak lama kemudian, muncullah beberapa pertanyaan dari bibir
mungilnya.
“Itu apa Bi?” “Itu lampu minyak, Sayang.” “Kok pakai lampu
minyak kenapa Bi?” “Karena listrik mati.” “Listriknya kok mati kenapa toh Bi?”
“Ya…mungkin karena tadi ada hujan deras.” “Kok tadi ada hujan deras
kenapa Bi?” “Tadi di langit kan
ada awan hitam, awan itu sekumpulan air, kalau turun jadi hujan.”
Bla…bla…bla….Demikianlah pertanyaan si kecil bagai tak ada habisnya. Abinya pun
dengan sabar menjawab pertanyaan putri sulungnya.
Rasa Ingin Tahu, Jangan Dimatikan
Anak-anak berusia 2-5 tahun memang seringkali mengajukan banyak pertanyaan
kepada orangtua atau pengasuhnya. Pertanyaan mereka biasanya tidak jauh dari
apa yang mereka temui, amati atau rasakan. Yang mendorong mereka mengajukan
pertanyaan adalah besarnya rasa ingin tahu mereka terhadap segala sesuatu.
Sebenarnya, kita semua memiliki bekal rasa ingin tahu semenjak
lahir. Kehebatan rasa ingin tahu inilah yang membuat bayi bisa merangkak,
berjalan, dan bicara. Selanjutnya, rasa ingin tahu ini akan menentukan kualitas
perkembangan otak mereka. Sayangnya, orangtua banyak melakukan intervensi
negatif sehingga naluri penting ini terkubur dalam-dalam
Seringkali orangtua tak mau menjawab pertanyaan anak-anaknya yang menurut
mereka terdengar konyol, lugu, dan seperti dibuat-buat. Seakan tak ada gunanya
kalaupun orangtua mau repot-repot menjawabnya. Hal ini menjadikan anak belajar
untuk mematikan rasa ingin tahunya. Setelah pertanyaan-pertanyaannya tak pernah
dijawab, anak pun jadi malas untuk bertanya lagi, dan jadi tak peduli pada
segala sesuatu yang ada di sekelilingnya. Tindakan orangtua yang mematikan rasa
ingin tahu anak itu sungguh tidak mendidik dan berpengaruh buruk terhadap
perkembangan otak anak.
Sebagian kecil orangtua memang ada yang sangat mendukung perkembangan
intelektual anaknya. Mereka bukan hanya menjawab pertanyaan anak, tetapi juga
berusaha melakukan sesuatu untuk semakin menumbuhkan rasa ingin tahu sang anak.
Mereka mendorong anak untuk bertanya dan terus bertanya, hingga anak sendiri
yang kehabisan pertanyaan. Untuk itu, para orangtua ini menyediakan waktu
sebanyak mungkin, karena mereka tahu, sepatah kata jawaban bisa menjadi sangat
berarti bagi perkembangan sel saraf otak anak.
Perlu Kesabaran
Orangtua yang tidak sabaran, mungkin cuma diam atau menjawab ‘tidak tahu’
saat ditanya sang anak. Kadang, pertanyaan anak malah dijawab dengan bentakan,
“Sudah diam! Jangan tanya-tanya terus. Ibu capek.”
Memang untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan anak itu diperlukan kesabaran,
di samping perhatian dan kepandaian dalam menjawab. Seorang ibu yang
sudah disibukkan dengan berbagai pekerjaan rumah, mungkin akan lelah menghadapi
seribu satu macam pertanyaan anaknya. Demikian juga dengan sang ayah yang
sudah bekerja seharian mencari nafkah. Rasa lelah itu bisa menghilangkan mood
untuk sekadar menjawab sang anak.
Bukankah jika kita menyatakan siap punya anak, secara otomatis kita juga
harus siap ‘direpoti’? Adalah salah besar jika hanya karena alasan sibuk atau
capek, lalu orangtua mematikan rasa ingin tahu sang anak. Sebisa mungkin, walau
sedang sibuk bekerja, kita tetap berusaha memberi perhatian pada anak.
Sambil memasak, seorang ibu bisa menjawab pertanyaan anak. Sambil membersihkan
rumah pun bisa terus mengobrol dengan mereka.
Sekali lagi, dalam hal ini memang dibutuhkan kesabaran tinggi. Dalam
menjawab pun kita harus menunjukkan perhatian, yang bisa ditampakkan lewat
mimik muka dan cara menjawab dengan nada bersungguh-sungguh.
Jawablah dengan Benar
Orangtua tak perlu memberikan jawaban panjang atau berbelit-belit, sehingga
malah sulit dimengerti anak. Cukuplah menjawab pertanyaan anak dengan jawaban
pendek dengan bahasa yang disesuaikan terhadap pemahaman anak. Jangan pernah
menjawab pertanyaan anak dengan sembarangan. Jika menjawab, jawablah dengan
benar. Jika orang tua tidak tahu jawaban yang benar, tak usah mencoba
berbohong. Lebih baik katakan tidak tahu, dan cobalah menerangkan di lain waktu
bila jawabannya sudah didapat. Sebagaimana contoh kasus di awal tulisan ini,
Abu Asma’ berusaha menjawab pertanyaan putrinya dengan jawaban-jawaban pendek
yang mudah dipahami.
Beruntunglah anak bila orangtuanya selalu berusaha menjawab pertanyaannya
dengan benar. Selain bisa memuaskan hatinya, jawaban itu juga akan menambah
pengetahuan dan wawasannya. Sayangnya, tak sedikit orangtua yang suka
memberikan jawaban tidak benar pada anak. Misalnya saat Hasan (5) bertanya pada
ibunya tentang gempa yang menyebabkan genting-genting di rumahnya melorot
ke bawah. “Kok terjadi gempa kenapa Bu?” “Karena ada raksasa besar yang mengamuk
di dalam laut, jadi bumi bergoncang.” Mungkin jawaban tersebut bisa diterima
oleh daya imajinasinya, akan tetapi jawaban itu tidak menambah perbendaharaan
pengetahuannya. Jawaban semacam ini sangat tidak bermanfaat, dan harus dijauhi
oleh para orangtua. Seharusnya pertanyaan Hasan bisa dijawab, “Gempa itu
penyebabnya bisa bermacam-macam. Salah satunya karena ada gunung meletus di
daratan atau lautan, jadi bumi bergoncang.” Jika Hasan masih penasaran dengan
sebab-sebab gempa lainnya, ibu bisa mencarikan referensi, misalnya buku atau
majalah yang membahas tentang gempa, untuk dibacakan atau dibaca sendiri oleh
Hasan.
Kemampuan Otak Balita
Mungkin kita mengira, anak-anak balita itu selain lugu juga tak tahu apa-apa
tentang alam semesta kehidupannya. Tapi adalah kesalahan besar jika kita
menganggap mereka bodoh, karena mereka mempunyai daya tangkap dan daya
ingat yang jauh lebih hebat dari yang kita pikirkan. Dari sekian banyak
pertanyaannya yang dia ajukan dalam sehari, pasti ada yang masuk dan direkam
baik-baik dalam otaknya. Ya, balita memang memiliki kemampuan menangkap
pengetahuan dengan hebat, karena otak mereka belum dipengaruhi untuk memikirkan
hal-hal lain.
Sebuah pertanyaan saja, bagi anak ibarat mempelajari sebuah bab pelajaran di
sekolah sebagaimana yang dipelajari kakak-kakaknya. Maka jawabannya akan
sangat berarti untuk mengasah ketajaman otaknya.
Yang perlu dikhawatirkan justru kalau anak terlalu pendiam, dan tidak ingin
tahu banyak tentang segala sesuatu. Ia tidak pernah bertanya, dan tidak tertarik
dengan adanya benda baru. Anak seperti ini harus ‘dipancing’ untuk
membangkitkan rasa ingin tahunya. Orangtua bisa memulai dengan mengajukan
pertanyaan, “Azmi, mengapa kalau siang tampak terang dan malam tampak gelap?”
Atau, “Kamu dan ayam sama-sama punya kaki. Mengapa kamu bisa menendang bola,
ayam tidak?” Dengan pertanyaan menarik diharapkan anak akan terangsang,
kemudian menanyakan segala sesuatu. Makin sering orangtua memancing dengan
berbagai pertanyaan menarik, tentu anak akan meniru tindakan orangtua.
Untuk mengembangkan kemampuan anak bertanya, bimbinglah anak untuk
mempraktikkan kunci utama pertanyaan, yaitu 5W+1H. Yang dimaksud 5W+1H adalah
what (apa), when (kapan), where (di mana), who (siapa), why (mengapa) dan how
(bagaimana)
Selain itu orang tua juga bisa menyediakan buku bacaan atau majalah islami
untuk anak-anak. Melihat gambar-gambarnya yang menarik dan
berwarna-warni, bisanya anak-anak akan tertarik untuk mempertanyakan apa yang
ia lihat. Jika anak tetap belum banyak bertanya seperti yang kita harapkan,
maka orangtua yang harus aktif menyakan segala sesuatu tentang gambar-gambar
atau kisah di buku tersebut. Yang mesti disadari, proses ini membutuhkan
waktu dan memerlukan kesabaran. Semoga kita memiliki putra-putri yang shalih
dan pintar.
Agar anak memiliki aqidah yang lurus sejak dini, maka sejak kecil ia harus
dididik tentang aqidah yang benar. Salah satunya dengan mengajarkan rukun
iman pada anak. Anak tidak cukup diajari untuk menghafalnya, tetapi juga perlu
diberi penjelasan dengan bahasa yang ia pahami.
Sumber: kumpulan tugas semasa kuliah